Are We Frightened to Grow Old?

(Reading the Poetry of Yeats)

The English Text:

when you are old poem.jpg

I first read the above poem in Indonesian when I was about 19 years old. Without having to re-read it, the poem touched my soul immediately, and pushed me to look for the original verse in English.

It appears this poem was first published in an anthology entitled ‘The Rose’ in 1893, while Yeats was born in the year 1865. The poem ‘When You Are Old’, therefore, was written when Yeats was still quite young.

The poem does not lift up a large subject from the world’s history, but nonetheless concerns a subject that is important to humanity, one that will always cause disquiet in mankind, namely that of age, and aging.

Is it true that mankind was made to be worried about old age, so that we would always try to find a way to remain young? If so, why?

Let’s weigh this thought with the image of the old, grey woman who is full of sleep in the poem.

An old, grey woman who no longer has much energy left in her sits alone close to the glowing bars. She takes a book that was written by someone for her. The book reminds her of her youth when she was in a condition very different from the present.

She was very beautiful when she was young, with a soft and alluring gaze. She was interesting, energetic and bright in her youth.

With all that she had, many men who were captivated by her declared their love for her. They loved all her attractions with love both false or true. However, there was one who truly loved her, because he knew and understood the pristine and beautiful soul of the girl.

Unfortunately, the girl was not wise enough to recognize a true love like that, and she let the man go.

Time also fled. The beautiful skin that carried the girl slowly relaxed from its tightness and youth. Compliments directed towards her beauty slowly disappeared. People who had declared their love to her slowly forgot about her. Her body moved with less alacrity, and so too her mind. What is left from this slow retreat?

If only she had accepted the true love from before. She was too late to see it. That love flew away, drifted off, and cannot be caught by her again.  The love soared into the sky and became a part of the universe.

A bright and beautiful woman in her youth is not luckier than a woman who is wiser about sincere love offered to her, love which will accompany her until she is old and grey and full of sleep.

There is perhaps nothing that is more durable than true love. Love that is based on a knowing of an unwrinkled soul. A soul that does not need expensive treatment aside from love alone.

If we find love and live with it, will we still be anxious about growing old, and struggle to find a way to always stay young?

 

(Neno Review)

Video and Translation by Duncan Evans

The Indonesian Text:

APAKAH KITA TAKUT MENJADI TUA?

(Membaca Puisi Yeats)

Kalau Kau Tua

Kalau kau tua, dan kelabu, dan pengantuk
Terkantuk-kantuk di dekat perapian, ambil buku ini dan bacalah perlahan
Dan kenangkan tatapan lembut
Yang dulu milik matamu, juga lekuknya yang dalam

Berapa banyak yang mengagumi saat-saat gemilangmu
Dan mencintai kecantikanmu dengan cinta tulus maupun palsu
Namun hanya satu yang mencintai jiwamu yang murni
Serta mencintai duka-derita di wajahmu yang tak muda lagi

Dan sambil membungkuk di samping api yang membara
Gumamkan dengan sedikit sedih, bagaimana cinta pun terbang
Dan melayang di atas pegunungan di atas sana
Dan menyembunyikan wajahnya di antara kerumunan bintang

(William Butler Yeats)

Saya membaca puisi tersebut pertama kali dalam Bahasa Indonesia saat saya berusia kira-kira 19 tahun. Tanpa mesti mengulang untuk kedua kalinya, puisi tersebut langsung menyentuh batin saya, dan mendorong saya untuk mencari versi aslinya dalam Bahasa Inggris.

Rupanya puisi tersebut dipublikasikan pertama kali dalam antologi The Rose pada tahun 1893, sementara Yeats sendiri lahir pada tahun 1865. Artinya, puisi When You Are Old ini ditulis ketika Yeats masih cukup muda.

Puisi ini tidak mengangkat subjek besar dalam sejarah dunia, namun subjek penting dalam kemanusiaan. Subjek yang senantiasa menjadi kegelisahan manusia, yakni usia.

Apakah benar umat manusia dibuat khawatir untuk menjadi tua, sehingga mereka senantiasa berusaha mencari cara untuk tetap awet muda? Jika benar, mengapa?

Mari kita renungan hal tersebut dengan gambaran seorang perempuan tua yang kelabu dan pengantuk dalam puisi ini.

Seorang perempuan tua beruban yang tak lagi punya banyak tenaga itu duduk sendiri di dekat perapian. Diambilnya sebuah buku yang ditulis oleh seseorang untuknya. Buku yang mengingatkannya pada kisah masa mudanya ketika dirinya dalam keadaan yang jauh berbeda.

Begitu cantik dirinya dulu, dengan tatapan yang lembut dan memikat. Begitu menarik, penuh tenaga, dan gemilang masa mudanya.

Dengan segala yang dimilikinya itu, banyak lelaki yang terpikat dan menyatakan cinta padanya. Mereka cintai segala kemenarikannya entah dengan cinta tulus maupun palsu. Namun, ada seseorang yang secara pasti mencintainya dengan tulus sebab ia mengenal jiwa perempuan itu yang indah dan murni.

Sayangnya, perempuan itu tak begitu pandai mengenali cinta yang tulus itu, dan membiarkannya pergi.

Waktu pun berjalan. Kulit indah yang membungkus perempuan itu mengendor pelan-pelan. Pujian-pujian atas kecantikannya pun menghilang pelan-pelan. Orang-orang yang pernah menyatakan cinta padanya melupakannya pelan-pelan. Tubuhnya bergerak lebih pelan, begitu juga pikirannya. Apa yang tersisa dari semua kemunduran itu?

Seandainya saja cinta yang tulus itu diterimanya dulu. Ia terlambat menyadarinya. Cinta itu telah terbang, melayang dan tak pernah bisa ditangkapnya lagi. Cinta itu telah membumbung tinggi dan menjadi milik semesta.

Seorang perempuan yang cantik dan gemilang di masa mudanya tidak lebih beruntung dari seorang perempuan yang pandai dalam mengenali cinta yang tulus baginya, yang akan terus menemaninya hingga tua, kelabu, dan pengantuk.

Tidak ada yang barangkali lebih awet dari cinta tulus itu. Cinta yang didasari atas pengenalan jiwa yang tak akan pernah keriput. Jiwa yang tak memerlukan perawatan mahal selain cinta itu sendiri.

Jika kita menemukannya dan hidup bersamanya, apakah kita masih khawatir menjadi tua, dan berusaha mencari cara untuk tetap awet muda?

(Neno Review)

 

Published by

nenoevans

Hi! My name is Neno. I'm an Indonesian sheila living in Australia. I love the arts, and literature and fashion are my favourite forms of artistic expression. I write poems and reviews about books and retro fashion. I've also begun to design some dresses that can be found at www.myvintagesheila.com under the label 'My Vintage Sheila'. My Instagram: @neno_myvintagesheila

One thought on “Are We Frightened to Grow Old?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s